Kades Akui Ada Masalah, Proyek Dana Desa Turu Adae Tanpa Galian Terkuak !

785

Bone, batarapos.com – Sedikitnya terdapat dua jenis proyek di Desa Turu Adae pada Tahun 2020 telah diinvestigasi media ini, diduga pelaksanaan pekerjaan asal jadi sehingga kurang berkualitas demi meraup keuntungan secara pribadi atau golongan oleh oknum-oknum tertentu melalui penggunaan keuangan Negara Dana Desa.

Desa Turu Adae adalah merupakan wilayah yang terletak di Kecamatan Ponre, Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan, satu diantara sekian banyak wilayah yang menjadi sorotan publik atas dugaan terjadinya perbuatan korupsi yang merajalela di Negeri ini, dimana harus segera ditindak lanjuti guna mencegah kerugian Negara.

Kegiataan penggunaan uang negara Desa Turu Adae melalui Dana Desa (DD) Tahun 2020 tersebut adalah bernama Perintisan Dan Pembangunan Talud denga nilai pagu anggaran berdasarkan Plan Proyek adalah Rp.172.872.500, namun tanpa informasi volume panjang proyek yang terletak di Dusun Boddonge.

Hasil pekerjaan proyek tersebut sangat terasa masih jauh dari harapan masyarakat atau standar kualitas bobot volume yang telah dibayarkan oleh Negara. Dimana indikasinya ditemukan saat investigasi dan pantauan langsung lapangan tidak memiliki galian pada dasar pekerjaan proyek fisik tersebut.

Tanpa galian tersebut terlihat pada pemasangan batu yang merupakan Drenaise, sementara disisi lain seperti pada bahagian sebelah kanan pada taludnya mirip dengan maksud agar kesannya tidak ketahuan hanya tergali sekitar kurang lebih 15 cm. Dan telah didokumentasikan sebagai bukti hasil pantauan.

Tak Hanya disini, jenis proyek lainnya juga dengan suasana yang sama pula, masalah tersebut terulang kembali mungkin lagi-lagi bisa jadi dianggap kurangnya kinerja pengawasan Sosial Control batarapos.com akan menyentuh lokasi proyek. Juga di Dusun Boddonge.

Yakni jenis kegiatan Pembangunan Talud, Deucker, Perkerasan Jalan Tani masih berdasarkan plan proyek dengan juga dan lagi masih pada Tahun 2020, namun pada pagu anggaran Dana Desa senilai Rp.199. 639.500. dari sini telah tertuang informasi volume panjang proyek 800 meter, dengan pemandangan lebih buruk rupa pula.

Hal ini dapat dilihat pada pekerjaan pembuatan Taludnya, dimana lagi diduga pekarjaan penggalian dilakukan hanya karena untuk menghilangkan keberadaan pematang sawah milik warga, bukan karena penggalain kedalaman pondasi, kemudian melanjutkan pekerjaan untuk memulai pemasangan batu maupun campuran. Sehingga kuat dugaan terjadi pencurian bobot volume pekerjaan dan telah mengarah pada kerugian Keuangan Negara.

Dalam konfirmasi batarapos.com kepada penanggung jawab pengguna Keuangan Negara Desa Turu Adae, Senin (12/10/2020) memberikan keterangan bahwa menepis temuan ini, namun tetap meminta dan mempersilahkan para penegak hukum agar segera turut menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya seperti segera melakukan pemeriksaan atau tindak lanjuti lapiran ini jika memang itu perlu dilakukan agar tidak menimbulkan polemik ditengah masyarakat.

“(Seperti karena tidak tercantumnya volume panjang pekerjaan pada plan proyek maka khusus pekerjaan red)) Perintisan, Perkerasan, Talud. Pokoknya volumenya 440 meter semua”, jawab klarifikasi Kades Desa Turu Adae Asirah Rasyid.

Lebih lanjut kata Kades dalam penjelasannya seperti pada Drainase, mengatakan untuk apa penggunaan galian dilakukan jika saja misalnya sudah cukup dalam dimana contoh sebab menurut ukuran RAB tingginya hanya 70 Cm, dan yang dibuat adalah 80 Cm sebagai klarifikasinya.

“Nda kalau kita mau proses, proses mi saja dek, nda anuka sedding kalau begitu saya karena sudah selesai mi. Tidak kutau galianya berapa”, cetus Asirah Rasyid kesan meyakinkan publik, bahwa kekurangan  pekerjaan yang telah terlanjur selesai atau kerugian negara sebagai contohnya bisa jadi tidak akan mungkin dapat terungkap lagi walaupun melalui penindakan hukum sekalipun atau dengan kata lain kemungkinan bukan lagi tanggung jawabnya.

“Tidak kutau saya karena Panitia Pelaksana Kegiatan (PPK), yang kerja begitu dek, pak Mustang (Kepala Dusun), kesana maki“, ujarnya.

Kades yang mengetahui hasil dokumentasi lapangan buruk rupa yang dimiliki batarapos.com terlihat kesan tidak menghasilkan kualitas baik pada pekerjaan yang dimaksud menganggap hal tersebut biasa saja.

Foto semua maki, baru laporki kalau mau laporki. Karena capeki kita kalau yang begitu mau dianu semua satu-satu, yang namanya kita pembangunan begitu”, ucapnya

Namun selaku penanggung jawab sekaligus Kades Desa Turu Adae, mengakui pelaksanaan pekerjaan proyek Dana Desa diwilayah ini memang bermasalah atau terdapat masalah.

“Tidak adaji itu pekerjaanku, anu saja rabat (beton), yang bermasalah disini dek kalau pekerjaan saya. Karena memang anunya kekuranganya bikin ki rabat disini, baru selesai dikerja masyarakat tidak mau dikasih tahu”, papar Kades Turu Adae Asirah Rasyid.

Masalah yang dimaksud telah diakuinya adalah seperti saat ini mungkin pekerjaan pengecoran telah selesai namun masyarakat merupakan anak kecil sudah melewatinya

Biasa sudah dikasi palang namanya anak-anak tidak mendengar begitu”, jelasnya.

Dilanjutkannya lagi, jika masalah pada penggalian pondasi proyek talud Kades Turu Adae Asirah Rasyid juga mengaku tidak mengetahuinya.

“Pokoknya apa  nabuat di Rencana Anggaran Belanja (RAB), itu mi yang dikerja. Ada semua galiannya, tidak bisa bikin talud kalau tidak ada galiannya. Tidak tahu mi kalau itu foto ta, tidak boleh bikin talud kalau tidak ada galian. Bukan talud namanya kalau tidak ada galian”, jelasnya.

Asirah Rasyid juga menjelaskan jika terdapat masalah diproyek pada lokasi ini agar sekiranya informasi ini sebaiknya diekspos kepublik selaku jurnalis yang sudah melakukan konfirmasi, agar Kepala Dusun mengetahuinya selaku pelaksana kerja.

Kita tanya kepala dusun (PPK), bilang tidak ada galian yang kita kerja kemarin ?, tidak setiap hari saya pergi anu (Lokasi), tapi (tidak) pernah bikin talud tidak ada galiannya”,  terangnya.

Asirah Rasyid selaku Kepala Desa Turu Adae sekali lagi membantah foto hasil dokumentasi batarapos.com yang menunjukkan proyek tersebut tidak memiliki galian pondasi kemungkinannya bukanlah merupakan kejadian diwilayahnya.

Tidak kutau kalau yang itu difoto, dimana ki itu, tidak kutahu wilayah ku atau bukan. Pokoknya tidak pernah ki bikin talud kalau tidak ada galiannya dek, yakin ka seratus persen, saya tidak pernah intruksikan PPK bilang tidak pake galian, talud dan drainase semuanya harus ada galian. Kalau tidak ada (galian), brarti itu salah dan harus diperbaiki karena tidak mungkin dibongkar, minimal kalau ada temuan pemeriksa paling tambah volume karena mungkin galianya kurang tambah lagi panjangnya”, tutupnya. (Yusri/Zul).