Liputan : Ismail
Wajo, batarapos.com – Kemarau panjang dan ancaman fenomena El Nino sejak April hingga Oktober 2026 ini mulai menjadi perhatian serius bagi peternak sapi potong di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Menipisnya hijauan di padang penggembalaan membuat peternak harus mencari sumber pakan alternatif agar kondisi dan produktivitas ternak tetap terjaga. Minggu (25/10/2026).
Pada musim kemarau, rumput lapangan semakin sulit diperoleh. Hijauan yang tersedia pun umumnya sudah tua dan mengalami kekeringan, dengan kandungan protein yang relatif rendah dan serat yang tinggi. Kondisi tersebut dapat menyebabkan pertambahan bobot badan sapi melambat, kondisi tubuh menurun, serta berpotensi mengganggu reproduksi ternak.
Bagi peternak rakyat, persoalan pakan bukan sekadar masalah teknis peternakan. Ketersediaan dan kualitas pakan sangat berkaitan langsung dengan pendapatan. Sapi yang mengalami penurunan bobot badan akan berdampak pada rendahnya nilai jual dan pada akhirnya menekan pendapatan keluarga peternak.
Di tengah ancaman kekeringan tersebut, Kabupaten Wajo sebenarnya memiliki potensi besar untuk mengembangkan sumber pakan alternatif berbasis limbah pertanian. Sebagai salah satu daerah dengan aktivitas pertanian yang cukup besar, Wajo menghasilkan berbagai hasil samping pertanian seperti jerami jagung, jerami padi, tongkol jagung, dedak, serta berbagai bahan lokal lainnya.
Jerami jagung menjadi salah satu bahan yang sangat potensial untuk dikembangkan sebagai cadangan pakan sapi potong, terutama untuk menghadapi musim kemarau. Namun, pemanfaatannya tidak cukup hanya dengan memberikan jerami secara langsung kepada ternak.
Jerami perlu melalui proses pengolahan untuk meningkatkan kualitas, daya cerna, palatabilitas, dan nilai nutrisinya. Teknologi seperti pencacahan, silase, fermentasi, amoniasi, serta pengolahan menjadi pakan lengkap dapat menjadi pilihan sesuai kondisi dan kemampuan peternak.
“ Yang penting adalah bagaimana peternak tidak menunggu pakan habis baru mencari solusi. Limbah pertanian harus dipandang sebagai sumber daya pakan yang dapat disiapkan sejak musim panen untuk menghadapi musim kemarau, ” ujar Dr. Sema, S.Pt., M.Si., yang merupakan dosen Program Studi Peternakan Universitas Puangrimaggalatung.
Menurutnya, jerami jagung dan berbagai limbah pertanian lainnya dapat menjadi bagian dari strategi penyediaan pakan berkelanjutan apabila dikelola dengan teknologi yang tepat.
Persoalan pakan tersebut juga menjadi bagian dari perhatian Program Studi Peternakan Universitas Puangrimaggalatung. Prodi Peternakan terus mendorong kegiatan pembinaan dan pendampingan kepada peternak, khususnya dalam pemanfaatan sumber daya lokal untuk meningkatkan produktivitas sapi potong.
Pembinaan tidak hanya diarahkan pada pemberian pengetahuan mengenai pakan, tetapi juga mencakup pengelolaan ternak, pemanfaatan limbah pertanian, teknologi pengolahan pakan, formulasi ransum, hingga pengembangan sistem peternakan yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Menurut Dr. Sema, S.Pt.,M.Si, Perguruan Tinggi memiliki posisi strategis dalam menjembatani hasil penelitian dan kebutuhan nyata peternak di lapangan.
“ Peternak membutuhkan teknologi yang sederhana, murah, mudah diterapkan dan sesuai dengan kondisi lokal. Karena itu, Perguruan Tinggi tidak boleh berhenti di ruang kelas atau laboratorium. Inovasi harus dibawa ke kandang dan diuji bersama peternak, ” katanya.
Patila Diproyeksikan Menjadi Desa Binaan Sapi Potong
Sebagai bagian dari upaya memperkuat pembinaan tersebut, Desa Patila, Kecamatan Pammana, Kabupaten Wajo, direncanakan menjadi salah satu wilayah Desa Binaan oleh Prodi Peternakan yang secara khusus diarahkan untuk pengembangan sapi potong.
Desa Patila diproyeksikan menjadi lokasi pengembangan model pembinaan peternak berbasis potensi lokal. Salah satu fokus yang akan didorong adalah pengembangan sistem penyediaan pakan sepanjang tahun dengan memanfaatkan sumber daya pertanian yang tersedia di wilayah tersebut.
Program Desa Binaan diharapkan tidak hanya menghasilkan peningkatan kemampuan individu peternak, tetapi juga membangun sistem peternakan berbasis kelompok. Peternak dapat diarahkan untuk mengembangkan cadangan pakan, mengolah limbah pertanian secara bersama-sama, serta mengembangkan unit usaha pakan yang dapat memberikan nilai tambah ekonomi.
“ Ke depan, kami ingin pembinaan tidak bersifat sporadis. Salah satu wilayah yang akan diarahkan sebagai Desa Binaan khusus pengembangan sapi potong adalah Desa Patila, Kecamatan Pammana. Di sana nantinya pembinaan dapat dilakukan secara lebih terarah dan berkelanjutan, mulai dari pakan, manajemen ternak, penguatan kelompok, sampai pengembangan usaha peternakan, ” jelas Dr. Sema, S.Pt.,M.Si
Pengembangan Desa Binaan juga diharapkan mampu mengubah pola pandang masyarakat terhadap limbah pertanian. Jerami jagung, jerami padi, tongkol jagung, dan bahan pertanian lainnya tidak lagi dipandang sebagai limbah yang harus dibakar atau dibuang, tetapi sebagai bahan baku pakan yang memiliki nilai ekonomi.
Untuk menghadapi musim kemarau, peternak dapat melakukan beberapa langkah, antara lain mengumpulkan jerami pada saat musim panen, melakukan pencacahan, membuat silase, fermentasi atau amoniasi, serta mengombinasikannya dengan sumber protein dan energi lokal.
Pemberian mineral dan suplemen seperti urea molases block juga dapat digunakan sesuai formulasi dan kebutuhan ternak. Sementara itu, penanaman hijauan yang relatif tahan terhadap kondisi kering, seperti indigofera, lamtoro, dan gamal, dapat menjadi bagian dari strategi penyediaan sumber protein hijauan.
Yang tidak kalah penting adalah menghitung kebutuhan pakan dan menyiapkan stok sebelum kemarau mencapai puncaknya.
Dr. Sema S.Pt., M.Si menilai persoalan pakan sapi potong tidak dapat diselesaikan hanya oleh peternak. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, penyuluh, kelompok peternak, dan pelaku usaha.
“ Setidaknya dibutuhkan kerja sama yang kuat antara instansi pemerintah dan perguruan tinggi untuk terus memajukan peternak sapi potong. Instansi memiliki kewenangan dalam berbagai program dan bantuan pemerintah, sedangkan perguruan tinggi memiliki inovasi teknologi untuk peternak. Kalau keduanya bersinergi, bantuan akan lebih tepat sasaran dan teknologi benar-benar sampai kepada peternak, ” ujarnya.
Pemerintah dapat berperan dalam penyediaan sarana pendukung seperti mesin pencacah atau chopper, fasilitas penyimpanan pakan, bantuan bibit hijauan, penyuluhan, serta akses pembiayaan. Sementara perguruan tinggi dapat memperkuat sisi teknologi melalui penelitian, pelatihan, pendampingan, formulasi pakan, dan pengujian kualitas bahan pakan.
Peternak sendiri menjadi aktor utama yang menerapkan teknologi sekaligus memberikan umpan balik berdasarkan pengalaman di lapangan.
Menjadikan Wajo Basis Pengembangan Sapi Potong Berkelanjutan
Ancaman kemarau dan El Nino seharusnya menjadi momentum bagi Wajo untuk membangun sistem peternakan yang lebih siap menghadapi perubahan iklim. Ketergantungan terhadap rumput segar dari padang penggembalaan perlu dikurangi dengan membangun sistem pakan yang memiliki cadangan dan memanfaatkan potensi pertanian lokal.
Melalui pembinaan yang berkelanjutan, pemanfaatan limbah pertanian, pengembangan teknologi pakan, serta rencana Desa Patila sebagai Desa Binaan khusus pengembangan sapi potong, Prodi Peternakan Universitas Puangrimaggalatung mendorong lahirnya model peternakan yang tidak hanya mampu bertahan pada musim kemarau, tetapi juga memiliki nilai ekonomi dan keberlanjutan.
Jerami jagung yang selama ini dianggap limbah dapat menjadi cadangan pakan. Desa Binaan dapat menjadi pusat pembelajaran. Dan sinergi perguruan tinggi, pemerintah, serta peternak dapat menjadi kunci untuk membangun sapi potong Wajo yang lebih tangguh menghadapi musim kering.









