Mantan Kades Seberang Tinggalkan Jejak Buruk, Proyek Setengah Milyar Mangkrak

767

Bone, batarapos.com – Diatas lahan milik mantan Kepala Desa Seberang (Kades) KM. Jumandar, S.Ag.,M.Pdi terdapat proyek penampungan air berdiameter 4×8 persegi dengan ketinggian 3 meter berdiri kokoh tidak berfungsi.

Penampungan air yang berlokasi di Dusun Jangkali itu dianggarkan melalui Dana Desa tahun 2019 senilai RP. 79.980.000 berdasarkan prasasti yang terpasang.

Hanya berjarak sekitar 250 meter, proyek tahun anggaran yang sama jenis pembangunan embung senilai Rp 442.874.000 dengan bobot volume 25 x 15 meter persegi dan juga terlihat dilokasi ini 1 unit mesin kubota model RD85DI-2S dengan nomor mesin KI ALW0060 kondisi baru masih terpacking kayu lengkap bungkusan plastik bening.

Anggaran Dana Desa tahun 2019 terus mengalir dilokasi ini, terakhir pekerjaan fisik berupa perintisan dan perkerasan jalan sepanjang 150 meter serta talud dengan volume pekerjaan 265 meter total anggaran Rp.85.000.000.

Namu jika diteliti maupun secara teknis hasil pekerjaan proyek ini kuat dugaan tidak sesuai spesifikasi alias asal jadi bahkan beberapa titik hasil pekerjaannya buruk rupa, ini terlihat jelas pada pemasangan talud dibeberapa titik dari hasil pantauan langsung tim batarapos.com

Kucuran anggaran Dana Desa (DD) tahun 2019 kurang lebih lima ratus juta rupiah lebih itu rupanya belum juga dinikmati keluarga mantan Kades Seberang terlebih sebahagian masyarakat yang memiliki lahan dilokasi tersebut.

Pasalnya hingga sampai saat ini, puluhan pipa besi yang seharusnya terhubung dari titik lokasi embung menuju penampungan air masih berserakan tidak terpasang bahkan sebahagian lagi sudah tertutupi rumput ilalang padahal usia proyek ini hampir menjelang 3 tahun.

Sebelum melepas jabatan sebagai kepala Desa, Mantan Kades Seberang KM. Jumandar kembali kucurkan Dana Desa tahun anggaran 2020 senilai Rp. 44.994.000 modusnya pemeliharaan embung.

Anggaran dana desa yang dikucurkan pemerintah desa dibawah kekuasaan KH. Jumandar hingga mencapai Rp 600.000.000 selama dua tahun secara bertahap dilokasi dusun jangkali ini rupanya disesalkan warga.

Pasalnya di Desa Seberang sendiri masih ada beberapa titik jalan tani yang lebih diperioritaskan masyarakat, seperti jalan pemukiman masyarakat galung langie tepatnya samping MTs Jangkali sebagai contoh begitu juga jalan tani Tongrong Ladoko yang juga merupakan akses utama para petani di Kecamatan Lamuru.

Bahkan masyarakat Kecamatan Lamuru rela membangun jalan tani dengan swadaya lantaran tidak pernah tersentuh anggaran terlebih dilirik pemerintah Desa dijaman pemerintahan KM. Jumandar.

Keberadaan proyek setengah milyar di Dusun Jangkali dinilai masyarakat tidak tepat sasaran terlebih pemilik lahan dilokasi itu mayoritas keluarga besar Mantan Kepala Desa Seberang.

Rata-rata keluarganya semua (KM. Jumandar) punya lahan disitu (hanya), Sennati, Karudding, Justang disitu bukan keluarganya“, beber warga Desa Seberang saat dikonfirmasi batarapos.com, Rabu (13/10/2021) kemarin.

Warga Dusun Jangkali ini menambahkan keberadaan embung dan penampungan air tersebut sangat disayangkan masyarakat terlebih pemilik lahan dilokasi itu hanya bercocok tanam jagung saja.

Setahu saya, (Kalau) bercocok tanam padi baru pakai air (sediakan embung) kalau kebun apalagi jagung saja ditanami biar tidak pakai air, baru tidak sedikit anggaran (digunakan) disitu sekitar lima ratusan juta kapang itu”, keluh warga Desa Seberang kepada batarapos.com

Keterangan dari masyarakat rupanya dibenarkan Abutang (Sodara kandung KH. Jumandar) dalam konfirmasinya kepada batarapos.com Kamis kemarin (28/10/2021) dilokasi proyek.

Abutang membenarkan jika lokasi proyek itu merupakan lahan KM. Jumandar bahkan dirinya mengaku sejak proyek ini rampung sama tidak pernah difungsikan untuk mengairi lahan seluas kurang lebih 5 hektar milik keluarganya.

Saya semua ji sekeluarga disini (Punya lahan) kah saya sodaranya pak mantan (KM. Jumandar)“, ucap Abutang.

Sebelum lokasi keluarga Mantan Kades Seberang disulap menjadi percetakan sawah untuk bercocok tanam jagung, tanah ini hanya berupa kebun dan hanya sesekali ditanami padi saat musim tertentu.

Jagung saja ditanam, pernah satu kali ditanami padi tapi tidak bagus (hasilnya) sekarang kan mahal jagung (pasarannya)”, tambah Abutang. (Yusri)

Sebelumnya21 Sekolah di Luwu Timur Dapat Bantuan Laptop Melalui DAK
SelanjutnyaTruck Muat Pasir Tidak Tutup Terpal di Luwu Timur Akan Ditilang