Segini Kisaran Modal Pembangunan Smelter PT. Vale di Bahodopi dan Pomala

431

 

batarapos.com – PT. Vale Indonesia Tbk, semakin mantap mengambil posisi dalam peta industri nikel Tanah Air sebagai operator nikel yang mengedepankan praktik-praktik penambangan berkelanjutan.

Selain beroperasi di Sorowako, Luwu Timur sejak 53 tahun, PT. Vale Indonesia Tbk, mengembangkan area penambangan di dua wilayah yang tentunya kegiatan penambangan itu harus didukung dengan keberadaan pabrik atau smelter.

Dua wilayah pembangunan smelter PT. Vale itu di Bahodopi, Sulawesi Tengah dan Pomala Sulawesi Tenggara yang rencananya akan dimulai pembangunannya pada awal tahun 2022 mendatang.

Anggaran yang disiapkan untuk pembangunan smelter kisaran 4,1 Miliar USD, dimana untuk Bahodopi angkanya kisaran 1,5 Miliar USD dengan target produksi 73.000 feronikel.

Sementara untuk di Pomala modal yang disiapkan kisaran 2,6 Miliar USD, angka ini terbilang jauh lebih tinggi dibanding Bahodopi, namun dengan target produksi 40.000 ton dalam bentuk msp.

“Jadi untuk Bahodopi angka yang pernah kami sampaikan itu dikisaran 1,5 miliar dolar untuk membangkun smelter untuk memproduksi 73.000 feronikel, Kalau di Pomala kami membangun pabrik pemprosesan dengan kapital kisarannya di 2,6 miliar USD, memang angkanya jauh lebih tinggi dibandingkan Bahodopi tapi di Pomala akan memproduksi 40.000 ton dalam bentuk msp,” Ujar Febriany Eddy Presiden Direktur PT. Vale Indonesia Tbk saat zoom meeting dengan wartawan, Selasa (31/8/21) siang.

Angka itu menurut Febriany eddy merupakan angka kisaran yang sewaktu-waktu angka itu akan berubah, setelah kajian teknis selesai.

Sehingga antisipasi perubahan desain pada perizinan oleh pemerintah juga menjadi fokus utama PT. Vale dalam menyiapkan angka pembangunan smelter di dua wilayah tersebut.

“Itu adalah kisaran dan sekali lagi disclaimernya angka itu bisa berubah, dan akan berubah, Dengan selesainya semua kajian teknis, nanti kita akan mendapatkan angka yang lebih pasti, dan angka itu tentu saja sangat dipengaruhi timeline eksekusi, negosiasi dengan para kontraktor dan kemudian perijinan yang diberikan yang apakah kemudian pemerintah mengharuskan kita dan partner merubah desain, Jadi ada beberapa hal yang harus kita antisipasi,” Tuturnya sembari menyapa wartawan dalam room zoom meeting. (HS).

SebelumnyaPT. CLM Serahkan Ratusan Masker ke BPBD Luwu Timur
SelanjutnyaPengurus dan Kader PKK Luwu Timur Dibekali Sosialisasi Deteksi Dini Resiko PTM