Diskoperindagkop Morut Siapkan Pendampingan bagi UMKM Terdampak PHK

Liputan : Rudini

Morowali Utara, batarapos.com – Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, Perdagangan, dan UKM (Diskoperindagkop) Kabupaten Morowali Utara, Yanismal Botuale, SE., MM., mengakui gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor pertambangan memberikan dampak besar terhadap pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di daerah tersebut. Selasa, (14/7/2026)

Menurut Yanismal, menurunnya daya beli masyarakat akibat PHK membuat banyak pelaku UMKM mengalami penurunan omzet. Bahkan, sebagian besar pekerja yang terkena PHK memilih kembali ke kampung halaman sehingga turut memengaruhi sektor usaha lainnya, termasuk bisnis rumah kos.

” Pelaku UMKM sangat merasakan dampaknya. Daya beli masyarakat menurun, banyak pekerja yang kembali ke daerah asal, sehingga usaha rumah kos pun mengalami banyak kekosongan dan merugi, ” ujarnya.

Ia menjelaskan, persoalan utama yang kini dihadapi UMKM adalah pemasaran. Berkurangnya jumlah konsumen membuat perputaran ekonomi ikut melambat.
Meski di tengah kebijakan efisiensi anggaran, Diskoperindagkop tetap berupaya mencari langkah terbaik untuk membantu para pelaku usaha. Salah satunya melalui pendampingan, pemberian motivasi, serta koordinasi dengan berbagai instansi terkait.

” Kami akan terus melakukan pendampingan dan memberikan dukungan kepada para pelaku UMKM agar tetap bertahan sambil menunggu kondisi perekonomian kembali stabil, ” katanya.

Yanismal juga menuturkan, salah satu langkah konkret yang telah dilakukan pemerintah adalah penertiban distribusi LPG 3 kilogram bersama tim dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah sebagai upaya menjaga stabilitas kebutuhan masyarakat.

Selain itu, Diskoperindagkop terus berkoordinasi dengan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi serta instansi terkait dalam menangani dampak PHK terhadap masyarakat.
Mengenai tingginya harga bahan pokok di Morowali Utara, Yanismal menilai kondisi tersebut dipengaruhi oleh pesatnya aktivitas pertambangan yang sebelumnya meningkatkan permintaan barang kebutuhan sehari-hari.

” Ketika aktivitas tambang berkembang, jumlah pembeli meningkat sehingga harga ikut naik. Bahkan, kebutuhan seperti ikan dan sayur lebih dulu diserap perusahaan sebelum masuk ke pasar masyarakat, ” jelasnya.

Ia menambahkan, tingginya harga sembako di Morowali Utara sebenarnya sudah terjadi sejak lama, bahkan sebelum perkembangan industri pertambangan.

Sebagai bentuk dukungan terhadap UMKM, Pemerintah Kabupaten Morowali Utara melalui program visi-misi Bupati telah menyiapkan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan bunga yang ditanggung pemerintah daerah. Namun, program tersebut masih menunggu penyelesaian addendum kerja sama dengan pihak perbankan.

” Sudah ada pelaku UMKM yang mengajukan permohonan. Dari dinas telah dilakukan verifikasi awal, kemudian diteruskan ke pihak BNI untuk proses verifikasi sesuai ketentuan yang berlaku, ” ungkapnya.

Yanismal berharap situasi ekonomi Morowali Utara segera pulih sehingga aktivitas usaha masyarakat kembali bergairah.

” Kami berharap kondisi Morowali Utara tetap aman dan kondusif. Semoga perekonomian segera membaik sehingga UMKM kembali berkembang dan masyarakat bisa bangkit, ” pungkasnya.

BERITA TERKAIT

TRENDING

JARINGAN SOSIAL

38,000FansSuka
263PengikutMengikuti
53PengikutMengikuti
3,190PelangganBerlangganan