Awalnya Ngotot, Kapus Tomoni Akhirnya Bungkam Saat Bidan dan Suami Pasien Akui Ini !

708

Luwu Timur, batarapos.com – Kepala Puskesmas (Kapus) Tomoni Kabupaten Luwu Timur (Hasmi, S.KM) bungkam saat salah satu bidan mengkaui kesalahan pelayanan di PKM.

Itu diungkapkan bidan Riska dihadapan Kapus Tomoni, Kepala Desa Rantemario, suami pasien dan wartawan saat proses klarifikasi di ruang kerja Kapus Tomoni, Senin (19/4/21).

“Ini saya klarifikasi ya, kita ada SOP sama ji halnya menjelekkan Kecamatan kita kalau sudah masuk medsos, kalau mau dirujuk itu harus diinpus, ini tidak ada intruksi dari dokter, kalau BPJS tidak aktif bisa pakai manual, bukan harus diselesaikan di medsos” Kata Kapus sembari ngotot mengaku memberikan pelayanan sesuai SOP.

Kapus Tomoni awalnya ngotot dan merasa tenaga perawat dan bidannya sudah sesuai prosedur dalam melayani pasien, Kapus bungkam saat Bidan Riska mengakui kesalahan dalam melayani pasien.

“Memang tawwa bu, ini kesalahan kita kemarin, kita juga bingung, karena pasien tidak dapat informasi manual, baru ini dibahas soal manual, dan tidak ada itu penjelasan didapat pasien kalau bisa manual, tidak jelas tawwa tidak ada pemberitahuan, tidak ada juga koordinasi ke BPJS” Ungkap Bidan Riska.

Pasien yang dimaksud adalah Damaris Sama warga Desa Rante Mario Kecamatan Tomoni, yang sedang hamil tiga bulan, tidak diberikan rujukan ke RSUD I Lagaligo saat mengalami flek atau terdapat darah keluar dari kandungan.

Pasien tidak diberikan rujukan karena terkendala tunggakan BPJS, ia terpaksa dibonceng menggunakan motor oleh suaminya (Sampe) ke RSUD I Lagaligo.

“Dari jawaban pihak PKM bela diri tidak ada habisnya, tidak sesuai apa yang saya alami saat saya bawa istri kesini, saya tidak dikasi penjelasan begini, intinya tidak bisa dirujuk karena BPJS menunggak, setelah diperiksa negatif, saya minta harus dirujuk, dia bilang tinggu mi, saya bolak balik saya hubungi pak Desa, saya tidak dikasi rujukan, karena ini karena sistem katanya, di lobi saya tanya tidak bisakah diantar pakai mobil ambulance saja tapi ditolak, saya minta surat rujukan juga tidak bisa, terpaksa saya bonceng motor ke Rumah Sakit, kalau itu alasan ta bu Kapus bilang tidak boleh dirujuk kalau tidak diinpus, sebulan lalu istri ku juga masuk ke PKM dirujuk tapi tidak pakai inpus ji juga” Tutur Sampe suami pasien.

Saat tiba di RSUD I Lagaligo, pasien terpaksa harus di kuret, pasalnya janin yang ada dalam kandungan tidak dapat diselamatkan, meski kehilangan calon bayi, Sampe bersyukur karena istrinya masih selamat. (**).

SebelumnyaOptimalkan Transformasi Digital, Pemda Lutim Gandeng PT. Vale
SelanjutnyaSatgas Covid-19 Lutim Gelar Rapat Persiapan Pembatasan Mudik