Liputan : Rudini
Morowali Utara, batarapos.com – Jauh sebelum teknologi eksplorasi migas berkembang, masyarakat Desa Kolo Atas, Kecamatan Mamosalato, Kabupaten Morowali Utara, telah mengenal keberadaan minyak bumi di wilayah mereka.
Rembesan minyak yang muncul secara alami dari dalam tanah disebut telah dikenal masyarakat sejak sebelum Indonesia merdeka. Minyak yang keluar di sejumlah titik bahkan pernah dimanfaatkan secara sederhana sebagai bahan bakar penerangan.
Kolo Atas berada di kawasan pesisir Teluk Tolo bagian utara, dengan bentang alam berupa dataran pesisir, perbukitan dan wilayah laut. Kondisi geografis tersebut membuat wilayah ini dinilai memiliki potensi strategis, termasuk di sektor energi.
Seiring waktu, keberadaan rembesan minyak tersebut mulai menarik perhatian pihak yang melakukan penelusuran sumber daya alam. Salah satu tonggak penting terjadi sekitar 1984, ketika Union Texas Petroleum melakukan survei seismik di wilayah Kolo Atas dan sekitarnya dalam kegiatan eksplorasi PSC Tomori.
Menurut kesaksian mantan Kepala Desa Kolo Atas, Sanawi, yang menjadi salah satu saksi sejarah kegiatan tersebut, pimpinan eksplorasi Union Texas Petroleum, Mr. Jones, pernah menyampaikan optimisme terhadap potensi wilayah Kolo Atas. Daratan itu bahkan disebutnya sebagai “Balikpapan Kedua”.
Namun, harapan masyarakat saat itu belum berlanjut pada pengembangan lapangan migas. Dokumen teknis resmi kegiatan eksplorasi tersebut juga belum tersedia secara terbuka, sehingga sejumlah informasi mengenai kelanjutan dan aspek regulasinya masih memerlukan verifikasi melalui arsip perusahaan maupun lembaga pemerintah terkait.
Puluhan tahun kemudian, masyarakat Kolo Atas kembali berupaya mendorong perhatian terhadap potensi sumber daya alam di wilayah mereka.
Pada 21 April 2024, melalui musyawarah desa, masyarakat, tokoh adat dan pemerintah desa memberikan mandat kepada Rudolf Inosen Lamandasa bersama Feriyanto Pa’o, didampingi Kepala Desa Kolo Atas Abd. Asyir, untuk mengawal upaya menghadirkan investasi dan memperjuangkan pengembangan potensi sumber daya alam, termasuk minyak bumi dan batu bara.
Berbagai langkah kemudian dilakukan, mulai dari pendataan titik rembesan dan sumur minyak, pemetaan, dokumentasi lapangan, uji laboratorium batu bara hingga penyampaian informasi kepada pemerintah daerah, Kementerian ESDM, SKK Migas dan Pertamina.
Memasuki 2026, harapan itu kembali menemukan momentum. Anak usaha Pertamina, PT Elnusa Tbk, melakukan survei lanjutan untuk memperoleh data geologi dan geofisika yang lebih rinci.
Kegiatan tersebut mencakup survei seismik 2D dan 3D dengan Kolo Atas menjadi salah satu area utama penelitian.
Bagi Kepala Desa Kolo Atas, Abd. Asyir, perjalanan panjang tersebut menjadi bagian penting dari upaya masyarakat memperjuangkan agar potensi yang selama puluhan tahun dikenal secara turun-temurun dapat diteliti dan dikelola secara serius.
Harapannya, apabila hasil penelitian nantinya membuktikan adanya cadangan migas yang layak dikembangkan secara komersial, manfaatnya tidak berhenti pada produksi energi. Pengembangan migas diharapkan ikut membuka lapangan kerja, mendorong UMKM dan koperasi, meningkatkan infrastruktur serta memperkuat sektor pendidikan, kesehatan dan pariwisata masyarakat.
Dengan sejarah panjang tersebut, Kolo Atas kini kembali menatap masa depan. Dari rembesan minyak yang dahulu dimanfaatkan masyarakat untuk penerangan, hingga survei seismik dengan teknologi modern, perjalanan potensi migas Kolo Atas masih terus berlanjut.
Kini masyarakat menunggu satu hal: apakah jejak minyak yang telah mereka kenal selama beberapa generasi benar-benar akan menjadi sumber energi baru bagi daerah dan Indonesia.












