Liputan : Yusri
Bone, batarapos.com – Ratusan hektar hamparan sawah petani di Kecamatan Bengo, Kabupaten Bone diprediksi bakal mengalami gagal panen, pada musim cocok tanam pertama ditahun 2026. Seperti yang terjadi dibeberapa Desa wilayah ini.
Minimnya suplai air irigasi untuk mengairi persawahan petani juga menjadi penyebab utama gagal panen kali ini, selain kemarau panjang yang terjadi sejak beberapa bulan terakhir. Hal ini juga dapat terlihat ratusan hektarare sawah petani di Desa Selli, Kecamatan Bengo, Kabupaten Bone misalnya.
” Sejak bendungan di Coppobulu dikerja, air irigasi tidak pernah mengalir, kami hanya mengandalkan sistem pompanisasi, ” kata petani bernama Adi kepada batarapos.com. Jumat, 6 maret 2026.
Adi mengaku sawah miliknya yang digarap di kampung baru, Desa Selli, Kecamatan Bengo, selama ini hanya mengandalkan pompanisasi sumur bor, untuk menyelamatkan sawahnya yang sudah memasuki fase pembuahan.
” Selama digarap sampai sekarang sudah ratusan tabung gas saya pakai, sejak karau diawal tahun, “tambahnya.
Hal serupa juga dirasakan Baba sapaanya, petani asal Desa Selli, Kecamatan Bengo ini juga terancam akibat musim kemarau, lahan yang digarap sejak awal bulan Januari 2026 hanya mengandalkan sumur Bor.
” Kami juga bersyukur adanya program Listrik masuk sawah sedikit membantu tanaman padi petani, namun kendati demikian juga berharap agar kedepan listrik ini bisa menyerap dengan maksimal lahan persawahan masyarakat karena ini sangat membantu apalagi musim kemarau mendatang, ” kata Baba.
Baba menambahkan sejak adanya program listrik masuk sawah melalui kelompok tani Lapecca Desa Selli, Kecamatan Bengo, Kabupaten Bone, tentunya sangat membantu perekonomian petani menengah. Ditambah tarif harga pemasangan Kilowatt Hour (KWh) yang dibandrol vendor atau Mitra PLN cukup terjangkau.
” Kemarin saya hanya membayar tiga juta rupiah, alhamdulillah bisa menikmati KWH Dua ribu dua ratus volt – ampere, dan itu belum termasuk biaya bentangan kabel sama box pelindung KWH, “tambahnya.
Selain Baba yang merupakan petani di Desa Selli, juga terdapat puluhan petani lainya merasakan dampak positif, program PLN masuk sawah melalui kelompok tani Lapecca Desa Selli, Kecamatan Bengo.
” Biayanya juga murah dibanding mesin diesel menggunakan bahan bakar minyak, untuk itu kami juga berharap pemerintah bisa hadir ditengah kesulitan petani khususnya Kementerian Pertanian Republik Indonesia berkolaborasi PLN memberikan bantuan dalam mewujudkan swasembada pangan tahun berikutnya, ” terang Baba.












