Petani Ngaku Dijanji Perawatan, Datanya Masuk PSR, Sekretaris KAMU Sebut Dananya Belum Ada

321

Luwu Timur, batarapos.com – Petani Kelapa Sawit di Desa Tawakua, Kecamatan Angkona, Kabupaten Luwu Timur menuntut keadilan, pasalnya saat lahan mereka didata dan didaftarkan mereka dijanji pemeliharaan kebun sawit, namun belakangan diketahui data mereka masuk ke program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) melalui koperasi pengusul, Koperasi Agro Mandiri Utama (KAMU) yang diusul pada bulan Desember 2019 lalu.

Itu diketahui para petani saat berlangsung pendataan program bantuan Sarana dan Prasarana (Sarpras) perkebunan kelapa sawit, rencana bantuan Pupuk dan pestisida yang berlangsung pada Oktober 2020 ini.

Puluhan petani di Desa Tawakua beberapa hari lalu mengurus berkas untuk bantuan Sarpras, namun saat dicek, data mereka masuk di program PSR dimana penerima PSR sesuai aturannya tidak diperbolehkan untuk masuk ke program Sarpras.

Hal itu membuat petani berang dan menuntut keadilan, pasalnya nasib lahan mereka tidak ada kejelasan hingga saat ini.

“Tidak benar ini kalau begini, saat didata kami dijanji pemeliharaan, katanya bantuannya berupa uang sebanyak 25 juta selama lima tahun, pertahunnya kami akan diberikan 5 juta, lah kenapa sekarang data kami masuk di PSR, sawit kami masih produktif masih usia muda kenapa mau diremajakan, ini tidak benar ini, kami nuntut keadilan” Ungkap KA mewakili petani lainnya kepada batarapos.com.

Para petani juga mengatakan bahwa sejak beberapa orang mendatangi mereka untuk didata, hingga saat ini tidak ada lagi komunikasi antara petani dan pendata.

“Ada beberapa orang yang datangi kami waktu itu untuk mendata katanya untuk pemeliharaan saja, setelah didata, kami tidak lagi dihubungi, bahkan baru sekarang kami tahu kalau data kami masuk melalui koperasi, kami kira langsung ke Dinas karena yang menadata saat itu ada dari pendamping” Kata pemilik lahan.

Para petani ini ancam akan menuntut pihak-pihak yang terlibat dalam pendataan tersebut, menurut mereka, data lahan mereka yang diambil diduga disalahgunakan.

Mengingat hingga saat ini data mereka terdaftar sebagai penerima bantuan sejak tahun 2019, namun satu rupiah pun bantuan tidak pernah diterimanya.

“Kami akan tuntut keadilan, kalau begini caranya, data kami disalahgunakan, nama dan lahan kami terdaftar sebagai penerima tapi kami tidak pernah terima satu rupiah pun, kami juga awalnya setuju kalau perawatan bukan PSR, karena klu PSR sawit kami ditebang, kami tidak mau, karena sawit kami masih muda” Tutur petani.

Sekretaris Koperasi Agro Mandiri Utama (M. Alwan) yang dikonfirmasi batarapos.com meminta petani untuk membuktikan bahwa lahan petani didata untuk sarpras.

“Intinya ketika diusulkan pasti akan ada verifikasi Dinas klo dinas loloskan berarti sah, kuncinya apa bukti tertulis kalau masyarakat isi data untuk sapras..” Tulis M. Alwan melalui whatsApp.

M. Alwan juga berdalih bahwa dalam penyampaian itu banyak opini, sehingga menuntut dana yang belum ada.

“Berita nya opini banyak, menuntut dana segala…emang dananya sudah ada… Apa yang mau di tuntut…dana belum ada sudah mau di tuntut” Ujar M. Alwan via WhatsApp.

Hingga saat ini, informasi yang dihimpun, sebanyak 14 KK pemilik lahan dengan total luas 41,75 hektar lahan di Desa Tawakua yang datanya masuk di program PSR namun menurut petani dijanji pemeliharaan, keluhan petani ini juga telah diterima oleh Dinas Pertanian Kabupaten Luwu Timur selanjutnya dilakukan pengembangan data. (HS).