Dua Anak Kandung Sudi Putus Sekolah Faktor Ekonomi, Anak Gadisnya Jadi Petani

933

Bone, batarapos.com – Seperti inilah aktifitas keseharian Nur Safika (19) warga miskin asal Desa Barugae, Kecamatan Lamuru, Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan.

Anak pasangan suami istri Sudi (56) dan Norma (55) yang sempat menikmati program  Bantuan Langsung Tunai (BLT Desa) tahun anggaran 2020 kemudian dihapuskan haknya seperti yang diberitakan media ini Sebelumnya.

Sejak Nur Safika mengalami kecelakaan lalulintas bersama ayahnya, Ia pun terpaksa harus kerja keras banting tulang. Gadis cantik ini bahkan rela bekerja sebagai petani, menggarap sawah layaknya seorang lelaki dewasa untuk mencukupi kebutuhan hidupnya menggantikan profesi ayahnya yang mengalami patah tulang bagian betis pasca kecelakaan hingga tidak bisa beraktivitas normal lagi.

Nur Safika bahkan harus putus sekolah lantaran tidak mampu lagi membayar biaya keperluan untuk bersekolah lantaran keterbatasan ekonomi.

Empat petak sawah milik ayahnya saat ini digarap oleh Nur Safika seorang diri sejak 3 tahun terakhir, terkadang sesekali dibantu oleh kakak iparnya  bernama Jusman (Suami Kasmia) yang juga merupakan salah satu korban pencabutan BLT Desa tahun anggaran 2020.

Saya sendiri kerja (menggarap) sawah.  Saya sendiri yang semprot, saya sendiri angkut (hasilnya) kerumah pakai ojek motor“, tutur Nur Safika.

Nur (Sapaan) juga bercerita, awalnya saat bekerja sebagai petani semuanya merasa berat dijalaninya, terlebih sebelum meninggalkan rumah ia juga harus mengurus semua keperluan ayahnya setelah kedua orang tuanya bercerai. Namun seiring berjalan waktu, rasa lelahnya itu rupanya hilang.

Selain bercocok tanam di sawah seperti menanam jagung, menanam ubi, hingga jagung. Jasa tenaga gadis kecil ini juga sering digunakan warga setempat saat musim panen tertentu. Namun Nur kecil ini tidak pernah merasa malu terlebih minder kepada teman sebayanya di usianya yang baru beranjak Dewasa.

Sering juga pergi panen jagung, potong padi dikebunnya warga (Diupah), sehari lima puluh ribu rupiah, berangkat jam 7 pagi pulang jam 5 sore. Saya bawa bekal sendiri”, tutur Nur Safira.

Meski rasa sakit dibagian kepala kerap Nur Safika rasakan pasca kecelakaan 3 tahun lalu, namu sakit itu seolah tidak dihiraukan lagi oleh Nur bahkan diabaikan demi sesuap nasi untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah untuk kelurganya dirumah.

Ini semua saya lakukan demi orang tua saya, saya sangat sayang,” ujarnya

Untungnya sejak 1 tahun terakhir ini adik Nur Safika bernama Andi (16) kembali ke ayahnya sesekali membantu kakaknya bertani, setelah selesai  pendidikan selama 3 tahun di sekolah pesatren  Al Mustaqim kota Pare-pare.

Bahkan Andi rupaya masih ingin bercita-cita melanjutkan pendidikan sampai ke tingkat Sekolah Menengah Atas agar bisa bekerja diperusahaan, namun karena terkendala biaya. Ia pun terpaksa harus putus sekolah dan memilih membantu kakaknya Nur Safika bertani.

Mau sekali sekolah, tapi tidak ada biaya. waktu saya sekolah (Dipesantren) saya dibiayai sama ibu (Norma) sampai selesai“, cetus Andi.

Cerita haru dan menyayat hati rupanya juga terpendam dalam hati Sudi selama ini. Bapak 8 orang anak ini bahkan rupanya berniat ingin melakukan operasi dan mengangkat tulang yang patah pada bagian betisnya itu dan  bisa beraktifitas kembali seperti biasa.

Namun lantaran terkendala pada biaya pengobatan terlebih sama sekali tidak memiliki kartu jaminan kesehatan seperti BPJS. Ayah Nur Safika ini hanya bisa pasrah pada takdir sang kuasa.

Mau sekali dioperasi tapi tidak ada biaya. Pernah dulu mau dioperasi waktu kecelakaan sama Puang Kema (pemilik kendaraan lakalantas) tapi anak saya larang (dan) disuruh berobat bugis saja, (Sudah) dua ekor sapi dijual selama saya tinggal durumah (pasca) kecelakaan (untuk kebutuhan), biasa juga anak saya (Diperantauan) kirimkan uang”, cetus Sudi. (Yusri)

SebelumnyaPemdes Benteng Salurkan BLT DD Tahap II
SelanjutnyaHari Jadi Lutim ke-18, PT. CLM Serahkan Genose Covid-19 ke Pemda