Indonesia Merdeka 74 Tahun, Bidan di Burau Dijajah 7 Bulan

81

Luwu Timur, batarapos.com – Nahas nasib Bidan Pustu di Desa Lauwo, Kecamatan Burau, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, ditengah semangat kemerdekaan Indonesia yang ke-74 tahun dirinya justru terjajah selama 7 bulan.

Rosalina, A.Md, Keb terpaksa harus mengeluarkan uang pribadinya untuk memberikan pelayanan medis di Dusun terpencil di ujung Luwu Timur, pasalnya sudah 7 bulan sejak Januari 2019 lalu, dirinya tidak lagi diberikan upahnya sebagai tenaga Upah Jasa.

“Sejak Januari saya tidak dikasi gaji ku, saya kerja terpaksa pakai uang sendiri untuk pergi dan pulang kerja di Pustu” Ungkapnya.

Rosalina telah mengabdikan diri sebagai tenaga sukarela sejak tahun 2011 lalu, namun baru diangkat sebagai Tenaga Upah Jasa pada  November 2017 lalu, SK Upah Jasanya untuk tahun 2019 masih diperpanjang, namun nahasnya, gajinya tidak berikan.

Terpisah, Kepala Puskesmas Burau (Nurhapiah Hafid, S.Kep.Ns) saat dikonfirmasi membenarkan hal tersebut, menurutnya gaji Rosalina tidak diberikan selama 7 bulan karena tidak menandatangani SPK.

“Siapa mau kasi gaji kalau tidak tandatangan SPK, biar ada SKnya kalau begitu” Ucapnya melalui via handpone sembari pamit.

Sementara soal SPK menurut Rosalina, dirinya saat itu telah berupaya mencari informasi kapan waktu penandatanganan SPK.

Kerap pula Rosalina bertanya ke pihak yang menangani Tenaga Upah Jasa dan Kepala Puskesmas, namun lagi-lagi jawaban tidak tahu yang kerap pula diterimanya.

Daftar hadir juga telah diajukan ke Kapus untuk ditandatangani namun lagi-lagi ditolak oleh Kapus dengan alasan Rosalina malas kerja.

Sementara buku daftar hadir tersebut berada di rumah Kepala Dusun, dimana Rosalina saat datang dan pulang harus mengisi daftar hadir di rumah Kadus.

“Bagaimana mau ka tandatangan SPK kalau setiap saya bertanya kapan waktunya, selalunya tidak tahu, tiba-tiba saya dengar sudah mi teman-teman tandatangan, saya juga ajukan daftar hadir ku selalu ditolak, dengan alasan saya malas, sementara daftar hadir ku itu dirumah pak Kadus, setiap saya isi daftar pasti ada orang yang lihat termasuk istrinya pak kadus” Tuturnya.

Rosalina awalnya mendapat bantuan motor Dinas, namun motor tersebut diambil sehingga ia harus membeli motor dengan cara kredit demi melangsungkan tugasnya sebagai Bidan di Dusun terpencil.

“Ada motor Dinas dulu di kasi ka, tapi diambil kembali, terpaksa saya kasi keluar motor karena tidak ada ku pakai” Kata Rosalina.

Diketahui, Rosalina tinggal di Desa Bone Pute, Kecamatan Burau, ia harus melintasi 7 Desa dan melalui Kabupaten tetangga (Luwu Utara) yang jaraknya sekitar 20an km, dengan akses yang ekstrim dan jembatan gantung untuk tiba di Pustu Lauwo Mess, Desa Lauwo Kecamatan Burau. (HS).

SebelumnyaHusler Jadi Irup Upacara Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan RI Ke-74
SelanjutnyaVideo : HUT RI Ke-74, Ini Sambutan Camat Bengo Selaku Inspektur Upacara