Kisah Gadis Asal Desa Barugae Jadi Tulang Punggung Keluarga, Sempat Terima BLT Desa

438

 

Bone, batarapos – Sungguh malang nasib Nur Safika (19) warga Desa Barugae, Kecamatan Lamuru, Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan. Anak dari pasangan suami istri Sudi (56) dan Norma (55) ini terpaksa jadi tulang punggung keluarganya.

Sebelum ayahnya mengalami kecelakaan tiga tahun silam hingga mengalami patah tulang bagian betis dan tidak bisa beraktifitas normal lagi terlebih mencari nafkah. Nur Safika sedikit bernafas lega.

Pasalnya ia hanya mengurus bagian keperluan rumah saja seperti memasak, setelah orang tuanya bercerai dan  memilih tinggal bersama sang ayah dan adik bungsunya bernama Andi (16) yang masih bocah.

Nur Safira bahkan harus putus sekolah lantaran keterbatas Ekonomi, kedua kakak kandungnya Sufian (29) dan Ardi Angsa (20) berada diperantauan.

“Kakaku saja biasa kirimkan uang kadang 1 juta rupiah, tidak menentu (terkadang) dua bulan baru mengirim (uang)”,beber Nur Safira.

Namun rupanya Nur Safira tidak berkecil hati, untuk tetap menyambung hidup gadis remaja ini rela bekerja membantu warga setempat saat musim tertentu dengan upah seadanya.

“Kalau musim panen, kadang biasa pergi potong padi, petik jagung (milik) warga, (Diupah) lima puluh ribu rupiah perhari”,tuturnya.

Sejak wabah pandemik Virus Corona Covid19 melanda sejumlah Negara termasuk Indonesia, perekonomian masyarakat semakin mencekik. Program pemerintah pun mulai digagas untuk pemulihan ekonomi masyarakat.

Salah satunya Program Bantuan Langsung Tunai (BLT Desa) yang dikelolah oleh Pemerintah Desa menggunakan keuangan Negara untuk warganya yang miskin maupun yang terdamapak, tidak terkecuali pemerintah Desa Barugae, Kecamatan Lamuru, Kabupaten Bone.

Salah satu warga miskin di Desa ini bernama Sudi (56) bahkan sempat menjadi peserta dari program BLT Desa tersebut tepatnya pada tahun 2020. Memasuki anggara tahun 2021 tiba-tiba Keluarga ini dihapus sebagai peserta program tersebut tanpa sepengetahuanya.

“Iyye bah, Pernah terima (BLT Desa) tahun lalu 2020, kalau tahun ini tidak ada mi. Saya lupa berapa (Jumlah keseluruhan)  tidak ada dua juta kapang”,tutur Nur Safira (anak kandung Sudi).

Dalam konfirmasinya kemarin, Sudi mengakui sejak bantuan BLT Desa tersebut diterimanya tahun lalu 2020, sangat membantu perekonomian keluarganya, terlebih saat ini dirinya tidak bisa beraktifitas dan mencari nafkah lagi setelah kecelakaan lalulintas hingga mengalami patah tulang bagian betis sebelah kanan.

“Kalau untuk makan (Seperti) beras saya beli, ada anak saya biasa kirim uang itupun tidak menentu”,beber Sudi.

Bahkan saat ini Sudi sangat mengingingkan kakinya agar bisa dioperasi dan bisa beraktifitas kembali untuk menafkahi buah hatinya, namun lantaran keterbatas biaya dan tidak memiliki kartu jaminan kesehatan (BPJS) niat tersebut sepertinya belum bisa terwujud.

“Mau sekali (Dioperasi) kalau ada biaya”,ucap Sudi (Yusri).

SebelumnyaPeringati HUT Lutim ke-18, KNPI Lakukan Aksi Kemanusiaan Donor Darah
SelanjutnyaTapak Suci Putera Muhammadiyah Gelar Ujian Kenaikan Tingkat Regional se-Sulsel