Luar Biasa Bentuk Kemitraan PT. Pasir Walanae Untuk Masyarakat Lamuru

211

Bone, batarapos.com – Beranjak dengan niat yang tulus serta didasari pemahaman tentang pentingnya menjaga ekosistem lingkungan akibat dampak pertambangan sesuai dengan konsep good mining practice.

Pasir Walanae dan Forum Masyarakat Mari-Mario (FMM), Desa Massereng Pulu, Kecamatan Laumuru, Kabupaten Bone  melakukan pengerukan di Daerah Aliran Sungai (DAS) untuk penampungan air persawahan para petani. Rabu (13/1/2020).

Satu unit alat berat jenis Excavator milik PT. Pasir Walannae dipergunakan untuk pengerukan sepanjang daerah aliran sungai di wilayah ini, begitu juga bagian penampungan air persawahan atau cekdump untuk kepentingan petani di area pertambangan tersebut.

Sebelumnya tim dari pihak PT Pasir Walanae bersama  Forum Masyarakat Mari-Mario mengadakan musyawarah atau tudang sipulu dan dilanjutkan dengan menelusuri Daerah Aliran Sungai (DAS) di Dusun Mari Mario Desa setempat.

Ketua FMM Andi Amirullah ST.MT mengatakan, problem yang terjadi ditengah masyarakat saat musim tanam tahun ini bukan karena tidak berfungsinya tempat penampungan air tersebut. Namun di sisi lain adalah faktor cuaca hujan yang tak menentu dalam kondisi saat ini.

Jangankan 17 warga petani yang  tidak bisa bercocok tanam, rata-rata ada lebih 100 yang ada di Dusun Mari-Mario mengalami keluhan yang sama. Bahkan aliran sungai yang dulunya di pakai untuk penampungan air persawahan sekarang sudah kering, karena di sebabkan musim kemarau.

Jadi jangan di politisasi bahwa dampak dari pertambangan, sehingga penampungan air para petani rusak atau tidak berfungsi. Tempat penampungan air milik warga Dusun Mari-Mario yang selalu di pergunakan mengaliri sawah mereka berasal dari aliran sungai kecil, atau dalam bahasa tambang sungai mati. Hanya butuh maintenance atau pengerukan pasir di sekitar bibir pondasi penampungan tersebut, itupun di sebabkan proses alamiah pengendapan pasir dari aliran air sungai kecil jika musim hujan“, tegas Ketua FMM. Andi Amirullah ST.MT.

Di tempat yang sama Nurdin (Ketua RT Desa Massenreng Pulu) yang juga memiliki lahan persawahan di area penampungan air tersebut mengaku bahwa selama ini para petani hanya mengandalkan air tadah hujan untuk bercocok tanam padi.

Keberadaan aliran sungai kecil dilokasi ini atau lebih tepatnya diarea pertambangan batu bara  PT. Pasir Walanae memang tidak bisa menampung banyak air untuk keperluan petani.

Bukan masalah tidak berfungsinya cekdump atau penampungan air sehingga (Petani) kekurangan air, tapi ini masalah umum karena kondisi cuaca hujan tak menentu. (Ditambah) sungai (Daerah Aliran Sungai) tersebut tidak ada airnya”, tutur Nurdin menggunakan bahasa bugis.

Sementara itu Junedy Jufri selaku perwakilan PT. Pasir Walanae berjanji akan siap bertanggung jawab secara lahir dan batin atas segala dampak yang di hasilkan dari proses pertambangan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat lingkar area tambang.

Namun kata Junedi Jufri untuk masalah penampungan air para petani (Cekdump) yang tidak berfungsi bukan semata-mata kita langsung menjastifikasi adalah dampak negatif dari proses penambangan.

Jadi ada beberapa aspek yang harus di kaji dan di ilmiahkan termaksud  penampungan air persawahan milik warga tidak berfungsi di sebabkan prosesnya alamiah, jadi saya pribadi berinisiatif melakukan pengerukan pasir yang sudah lama mengedap secara berjamaah dengan Forum Masyarakat Mari-Mario”, cetusnya. (Yusri).