Rehabilitasi DAS PT. Vale, Kontraktor Boleh Tanam Bibit Asalan ?

375

Luwu Timur, batarapos.com – PT. Vale lakukan Rehabilitasi DAS lintas batas di 13 Kabupaten di Sulawesi Selatan, salah satunya di Kabupaten Luwu Timur.

Untuk di Kabupaten Luwu Timur PT. Vale melakukan penanaman rehabilitasi DAS di Desa Matano (Kec. Nuha), Desa Timampu (Kec.Towuti), Desa Kasintuwu (Kec. Mangkutana), Desa Batu Putih dan Cendana (Kec.Burau) dengan total luas kurang lebih (±) 1.490 hektar.

Untuk Rehabilitasi DAS di 13 Kabupaten ini, PT. Vale menganggarkan sebanyak ± 400 Milyar, dengan total luas lahan 10 ribu hektar.

Diketahui, sebagian lahan yang masuk sebagai target rehabilitas DAS ini telah dihuni atau digarap oleh masyarakat, dimana lahan tersebut telah ditanami berbagai tanaman jangka panjang.

Sementara kegiatan ini menargetkan 1.000 tanaman per hektar atau 400 tanaman bagi lahan yang sudah terdapat tanaman masyarakat didalamnya.

Menurut masyarakat, bahwa sebagian besar bibit seperti durian yang akan ditanam tersebut, hasil dari biji atau bibit asalan yang tumbuh liar selanjutnya dikumpulkan untuk dibibitkan.

“Bagaimana mau tumbuh tanaman kalau dilahan sudah ada tanaman kita, mereka mau tanami lagi tanaman begitu dengan jarak tiga kali tiga meter, baru itu bibit yang mau ditanam bibit liar yang dicabut baru dikumpul, bibit begitu mana bisa dijamin akan produksi” Ucap warga Desa Batu Putih yang tidak ingin namanya disebutkan.

Sementara Fatan, pihak kontraktor dari PT. Rimba Avanti Nawasena selaku pengelola berdalih bahwa bibit tersebut diperoleh dari masyarakat sendiri sesuai kesepakatan.

“Bibit itu kita ambil dari masyarakat, entah itu bibit liar atau memang bibit bagaimana itu tergantung masyarakat, karena sebelumnya kita sudah sampaikan ke masyarakat kalau mereka bersedia menyediakan bibit, kami hanya berupaya berdayakan masyarakat setempat” Kata Fatan saat ditemui di lokasi pembibitan.

Terpisah, Proyek Manager Rehabilitasi DAS PT Vale (Yohan Lawang) dihubungi batarapos.com mengungkapkan bahwa pihak pengelola boleh mengambil bibit dari lokasi mana pun, namun bibit itu harus dari lokasi tersebut.

Namun ada 6 jenis tanaman dari beberapa jenis tanaman yang akan ditanam tidak boleh di ambil secara bebas melainkan melaui proses sertifikasi.

“Untuk vendor boleh ambil bibit dari mana saja, asal bibit itu dari lokasi tersebut, tapi tidak langsung diambil begitu saja lalu ditanam, tapi dibibitkan dulu, baru ditanam, meski bebas ambil bibit, ada enam jenis bibit yang tidak boleh dan harus bersertifikasi benihnya” Ungkap Yohan.

Ditanya soal, harapan PT. Vale dengan kegiatan rehabilitasi DAS yang dilakukan tidak hanya memberikan dampak baik ke lingkungan, tetapi juga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, dengan menanam bibit asalan atau bibit liar yang tidak dijamin produksinya, Yohan menuturkan bahwa semua tanaman akan berbuah.

“Tiap pohon buah itu pasti berbuah, ada yang berbuah cepat ada yang lambat, tergantung dari pemeliharaannya dan kandungan unsur hara yang diberikan” tandasnya.

Untuk tanaman yang akan ditanam kata Yohan Lawang, jumlahnya 1.000 bibit per hektar, namun jika terdapat tanaman masyarakat dilahan tersebut hanya boleh 400 bibit.

“Memang targetnya seribu bibit per hektar, tapi kalau sudah ada tanaman masyarakat kita tanam empat ratus bibit per hektar” Ucap Yohan. (Tim/Red).

SebelumnyaKetua DPRD Bone Bersama Kadis Pariwisata Buka ECC Gelombang Ke 2
SelanjutnyaPemdes Sindu Agung Imbau Masyarakat Agar Tidak Terkontaminasi Paham Radikal dan Terorisme