Liputan : Tim
Luwu Timur, batarapos.com – Penjahit pakaian seragam sekolah gratis di Luwu Timur akui setor dana ke koordinator pendamping pelaku usaha penjahit.
Dana yang disetorkan oleh penjahit langsung ke rekening koordinator konon untuk pengadaan dasi dan Topi, yang nilainya bervariasi, mulai dari angka Rp. 15 ribu sampai Rp. 25 ribu.
Salah satu penjahit seragam TK di Desa Tarengge Timur, kecamatan Wotu, mengaku kecewa lantaran potongan dana yang diminta oleh koordinator tidak dibahas diawal pertemuan.
Setelah anggaran dibayarkan ke pelaku usaha penjahit, koordinator meminta potongan agar dana tersebut dikembalikan untuk pengadaan dasi dan topi yang diambil alih oleh koordinator kecamatan masing-masing.
Pengadaan dasi dan topi diambil alih oleh Koordinator dengan Dalih atas persetujuan penjahit padahal, sebagian penjahit heran, pasalnya dasi khusus seragam TK itu paket dengan baju atau melekat langsung di baju.
” Coba dari awal pertemuan disampaikan ada potongan Rp. 25 ribu, untuk dasi dan topi, mungkin saya pikir-pikir, ini anggaran cuma Rp. 200 ribu dipotong lagi Rp. 25 ribu, mana harga kain itu lebih seratus ribu, koordinator yang tunjuk toko, ongkos kerja tidak seberapa, sedangkan dasi saya yang bikin karena melekat di baju,” Kesal Nasriani saat dihubungi batarapos.com.
Potongan dana pengadaan dasi dan topi tersebut dibenarkan oleh Syamsiar selaku Koordinator Kabupaten untuk seragam sekolah, dia berdalih bahwa jumlah potongan Rp. 25 ribu untuk seragam TK hanya Rp. 15 ribu, dan yang berlakukan potongan Rp. 25 ribu hanya Kecamatan Wotu.
” Kecamatan lain itu hanya Rp. 15 ribu untuk TK, hanya kecamatan Wotu yang Rp. 25 ribu, kecuali SD dan SMP Memang Rp. 25 ribu karena mana lagi bordirnya,” Kata Syamsiar kepada batarapos.com, Sabtu 02 Mei 2026.
Ditanya soal dana yang disetorkan oleh penjahit langsung ke rekening miliknya, Syamsiar membenarkan, namun menurutnya dana itu hanya sekedar disatukan melalui rekeningnya, selanjutnya ditransfer ke UMKM Bandung untuk pengadaan dasi dan topi.
” Memang semua transfer ke rekening ku, karena satu titik semua kabupaten dikumpul jadi satu, supaya murah dikenakan kalo jumlah banyak tapi Tetap ji harganya dari Bandung saya share di korcam, Jadi semua korcam yang modali masing masing kecamatan nya, Uangnya transfer lewat saya, saya kumpulkan baru saya kirimkan ke yang produksi di Bandung,” Jelasnya.

Sempat berang di media sosial, Syamsiar akan laporkan batarapos.com ke Polisi, atas pemberitaan dugaan pungli Seragam sekolah, bahkan mengerahkan sejumlah media untuk mempublikasikan pembelaan diri.
Namun pada akhirnya dia pun mengakui jika koordinator dapat keuntungan lumayan dari pengadaan dasi dan topi, Syamsiar blak-blakan, bahwa dana pengadaan dasi dan topi sebesar Rp 25 ribu per seragam itu, koordinator mendapat keuntungan sebesar Rp. 9 ribu.
” Jujur mi saja, kita koordinator dapat keuntungan Rp. 9 ribu per seragam untuk pengadaan topi dan dasi, karena di Bandung kita hanya dikasi harga Rp. 16 ribu, itu mi yang dibagi-bagi teman koordinator di lapangan, pergi mendata dan mendampingi,” Ungkap Syamsiar.

Jika diestimasi, keuntungan pengadaan dasi dan topi yang diambil alih oleh koordinator diduga mencapai ratusan juta, pengadaan seragam sekolah gratis di Luwu Timur yang jumlahnya 16.737 siswa dikalikan Rp. 9 ribu maka hasil keuntungan yang diperoleh sebesar Rp. 150 juta lebih.











